Jumat, 03 April 2015

Why [FF]

Kenapa?

.
.
.

" Kenapa?"

" Aku tak mempunyai alasannya."

" Yang aku butukahn hanya alasanmu. Alasanmu yang logis!"

" Tidak ada."

" Aku.... Aku tak akan melepaskanmu. Jika kau tak memberikan alasannya."

" terserah."

..
.
.
.

" Daehyun-ah! Kalau begitu kenapa kau menyukaiku? Kenapa kau menyatakan cinta palsumu padaku? Eoh? Wae? Apa kau sudah puas eoh?"

Tak ada perubahan sekeras apapun yeoja itu berteriak. Namja yang dipanggil daehyun itu sama sekali tak mengindahkannya.

" Ya! Jung Daehyun! " Yeoja itu sekali berteriak sebari memukul-mukul dada bidang sang namja.

Entah apa yang di pikirkan namja itu. Ia sama sekali tidak melakukan apapun. Ia hanya diam membiarkan tubuhnya kesakitan.

Lama kelamaan yeoja itu lelah ia terduduk dan menangis tersedu.

" Kenapa kau lakukan ini padaku Jung Daehyun?! Kenapa kau tidak sekalian membunuhku saja ha?" Isaknya sebari berteriak.

Namja itu-Daehyun, berbalik dan meninggalkan yeoja itu sendirian tanpa menjawab pertanyaannya.

Apakah ia jahat?
Menurutnya tidak. Inilah yang terbaik. Inilah yang terbaik untuk mereka.

Sementara itu yeoja itu tak bisa melakukn apa-apa ia menekuk lututnya lalu membenamkan kepalanya diantara kedua lututnya.

---

" Jae, ayo makan." Panggil sang eomma.

Tapi sama sekali tidak ada jawaban dari dalam kamar putri kesayangannya.

" Jae, eomma memasak makanan kesukaanmu. Ayo makan. Setelahnya kita pergi jalan-jalan. Bagaimana?"

Tetap tidak ada jawaban. Ini sudah ke 3 harinya Jaerin tidak mau makan. Sudah berbagai upaya di lakukan eommanya agar ia mau keluar dari kamarnya dan mrnceritakan apa yanh sebenarnya terjadi.

" Jae, makan ya... Eomma taruh makanannya di depan pintu." Kata sang eomma yang kemudian menyimpan nampan yang berisi makanan didepan pintu.

Iapun turun kebawah. Suami, serta kedua anaknya menatap sang eomma seolah bertanya ' Bagaimana?' sang eomma hanya menggeleng.

" Tapi ini sudah hari ke 3 ia seperti itu. Aku khawatir sayang." Ujar Tuan Lee-sang suami saat Nyonya Lee tengah duduk di sebelahnya.

" Aku juga, biasanya dia akan bercerita padaku jika dia sedang ada masalah. Atau pada...Taemin-ah,  apa ia sudah mempunyai kekasih?"

Taemin terbatuk.

" Benar?" Kini Tuan Lee bertanya.

Taemin mengaruk kepalanya.

" Aku tak yakin sih... Tapi kalau tidak salah ia dekat dengan seseorang. Namanya... Jung Dae-"

" Jongdae?"

" Ah Dae- hyun... Yah Daehyun."

" Dae...hyun? Apa...dia datang ke...mari?" Ujar Jaerin terbata.

Semuanya tersnyum senang karena melihat Jaerin akhirnya keluar dari kamarnya. Tapi... Semuanya juga nampak tak percaya. Jaerin yang biasanya ceria. Senyum selalu menghiasi wajahnya kini tak ada. Wajahnya pucat pasi. Bahkan ia nampak kurus. Kantung matanya yang menghitam membuat ia seolah seperti mayat hidup.

" Jae... " Nyonya Lee berjalan menghampiri putri semata wayangnya itu.

" Apa Dae...hyun datang ke...mari?" ia mengulangi perkataannya dengan sedikit terisak.

Tak ada yang menjawab. Nyonya Lee langsung memeluk putrinya itu. Mengusap rambut coklat sebahunya.

" Sayang... Daehyun itu siapa?"

Bukannya menjawab Jaerin malah melepaska pelukan sang ibu dan berlari keluar.

Taemin tak tinggal diam ia mengejar Jaerin dan langsung mendapatkannya karna ia memang tak pandai berlari.

" Apa yang ia lakukan padamu?!" Teriak Taemin.

Jaerin menggeleng.

" Kenapa kau seperti ini?! Mau kemana kau, hah?"

" Aku... Tidak tahu..."

" Kembali kerumah. Jika kau ingin pergi aku akan mengantarmu.!" Ucap Taemin tegas. Sebari membawa Jaerin pulang kerumah.

Jaerin melepaskan
Ia berlari tak tahu arah yang ada di benaknya hanya satu. Daehyun.

Ia berlari sekuat tenaga. Walaupun ia terus terjatuh. Ia berdiri lagi kemudian.

Hingga...

BRAK

Sebuah mobil dengan kekuatan cepat dari arah berlawanan melaju dengan kekuatan kencang.

Jaerin yang memang tak dpat menghindari hanya bisa pasrah. Tubuhnya terpanting hingga kepalanya mengeluarkan banyak darah. Ia mencoba berdiri, tak peduli darah terus mengalir dari pelipisnya.

Sang pemilik mobil keluar dan menghampirinya.

Tapi saat mata mereka bertemu...

Tubuh Jaerin langsung terjatuh ke aspal. Pertahanannya runtuh. Ia tak memiliki lagi kekuatan untuk merangkak apalagi berjalan. Tapi matanya masih terbuka ia terus memperhatikan gerak-gerik orang itu-pemilik mobil, ia berjalan dengan tatapan kosong,  kemudian menopang tubuh Jaerin yang memang sudah tak bisa melakukan apapun.

Orang itu terdiam. Menatap nanar yeoja yang ada di depannya.

Jaerin mencoba bersuara.

" Wae... What is the reason... Daehyun?"

Bukannya menjawab namja yang tak lain adalah Daehyun tersenyum getir.

" Jae... Sayang... Inilah yang aku

takutkan aku takut menyakitimu... Jae... Seharusnya aku yang pergi kesana duluan..."




Kamis, 02 April 2015

Eyes, Nose, Lips

eyes , nose , lips
Di langit secerah ini. Hujan turun dengan begitu derasnya. Tidak ada yang membawa payung siang itu. Lagipula siapa sangka akan turun hujan.
Dan hujan mengingatkanku akan dia,