eyes , nose , lips
Di langit secerah ini. Hujan turun dengan begitu derasnya. Tidak ada yang membawa payung siang itu. Lagipula siapa sangka akan turun hujan.
Dan hujan mengingatkanku akan dia,
Kini semuanya berbeda. Kau, bukan aku yang berubah. Ini menyakitkan ketika kau selalu mengatakan maaf denganmudahnya dari bibirmu. Ketika hari hujan itu. Kau datang terlambat dan duduk di depanku dengan keadaan basah kuyup. Aku tidak peduli dan juga tidak ingin tahu apapun alasan keterlambatanmu.
Aku hanya diam memandangimu yang tengah mengoceh panjang lebar. Mengatakannya secara rinci dari a hingga z.
Kau menatapku dengan wajah memelasmu. Aku hanya diam kemudian memandang keluar jendela. Hujan reda, dan aku pun beranjak meninggalkanmu. Yang aku yakini sedang shock. Memangnya aku peduli?
Aku tahu kau mengejarku. Minta penjelasan kenapa tiba-tiba aku pergi.
" Aku muak denganmu."
Kau diam mematung seperti orang bodoh. Apa kau kaget dengan sikapku seperti itu padamu? Apa kau baru sadar bahwa aku bisa marah? Apa kau masih berpikir bahwa aku masih bisa kau kelabui?
Lupakan. Aku sejak dulu seperti ini. Hanya saja kau yang tidak pernah tahu dan tidak peduli. Tidakkah kau senang? Aku sudah melepasmu?
Walaupun rasanya begitu sakit.
" Aku minta maaf, tadi aku sungguh mengantar ibuku."
Sungguh? Jadi selama ini kau membohongiku bukan?
" Pergilah, permintaan maafmu kuterima."
" Sungguh-"
" Dan jangan muncul kembali di hadapanku,"
Aku pergi kembali meninggalkanmu. Aku tak memdengar kau memanggilku kembali. Itu artinya kau sama sekali tidak bersungguh sunguh padaku. Kau hanya pembohong besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar